Moral dan Halaman Wiki

wikiloveBelum lama ini, kembali terungkap ternyata sebagian artisdoyan membuat film po**o, hebatnya, penulis skenario, sutradara, pemeran utama pria, pemeran utama wanita,pemeran pembantu, juru kamera, penata suara sampai supir hanya diperan oleh dua orang. Mengalahkan pembuatan film-film indie dalam jumlah personil yang terlibat.

Apa motif dibalik pembuatan film tersebut? hanya mereka yang tahu. Mungkin saja mereka mengidap semacam pernyakit atau motif-motif lainnya. Sebagai publicfigure, seharusnya mereka menjadi tauladan, walaupun pada hakikatnya ketika film made in dewe tersebut terpublish ke khalayak ramai mereka sudah memberikan contoh/tauladan yang tidak baik.

Siapa yang salah?
Aparat keamanan malah sibuk mencari siapa yang pertama kali meng-unggah film tersebut ke domain public, para ahli hukum sibuk mempertanyakan perlu tidaknya pelaku yang ditahan, para pengacara sibuk membela dengan asalan penegakan hukum, pokoke sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Hey, siapa yang salah? SEMUANYA!.

Apa yang harus kita lakukan?
Jangan tanya, lakukan saja sesuai dengan tugas fungsi kita masing πŸ˜€

  • Anda Ayah/ibu, lindungi putra/i anda, beri pendidikan rohani yang memadai, batasi penggunaan internet, blok konten po**o, bila perlu batasi hanya boleh membuka situs departemen pendidikan nasional, belikan handphone jadul, berikan pendidikan sex yang sehat.
  • Anda suka nonton, kenapa tidak anda tonton film sotoy tersebut? karena kesukaan anda menonton. Jangan batasi diri anda, karena akan menyiksa perasaan anda sendiri. Caranya juga gampang, unduh, tonton, hapus.
  • Anda Ahli Hukum, bisa mempidanakan pelaku dengan alasan merugikan khalayak ramai?, jangan dengan undang-undang pornografi, karena didalamnya tidak diatur secara spesifik tentang pembuatan video po**o untuk konsumsi sendiri.
  • Dan seterusnya sampai habis…

Yang pasti perbuatan mereka sudah melukai publik, mereka telah menghianati orang-orang yang mereka cintai, penggemar mereka dan orang-orang yang menaruh simpati pada mereka.

Entahlah, mungkin hanya sebatas itu sajamoral yang mereka punya.

Jangan difikirkan, tulisan ini (tidak) berguna untuk anda dan saya percaya anda sudah membacanya pada ratusanmedia. Apakah anda sudah melakukan tugas sesuai dengan fungsi anda masing-masing (dalam konteks pada artikel ini tentunya)?

Yeahhh, googling lagi.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Aldy Markopiola

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

106 Tanggapan

  1. nakjaDimande says:

    Selamat siang Mas Aldy.. Bundo barusan habis nonton trus disimpen deh.. **nonton film kartun

  2. masda says:

    Setuju ama artikel di atas, emang seharus kita berfikir 2 kali sebelum bertindak, mari kita laksanakan program internet sehat, satu yg bikin ane penasaran gan, kenapa dalam hukum negri-negri ini musti dipertimbangkan lg pada prosesna, apakah negri-negri ini tidak mempunyai UU, yang benar disalahkan yang salah dibenarkan

  3. “Jadi salah siapa? Salah gue? Salah temen-temen gue??” <—halah malah ngutip dialog AADC πŸ™‚

    Jadi bgini kakang –ehem ehem– *disertai batuk – batuk kecil yang menandakan siap berbicara serius*

    Mungkin motif dibalik pembuatan pelem tsb adalah “keakuan” atau mungkin juga “ego sentris” dari pemeran utama, untuk mendapatkan pengakuan, paling tidak dari orang2 terdekat kalau tuh manusia, pernah ML ama orang2 terkenal…

    Atau juga iseng yang pada akhirnya membawa sengsara… emang pada dasarnya iseng itu berujung sengsara atau malah bahagia ya Kakang…? #galau

    Kalau ditanya siapa yang salah? ini adalah kesalahan kolektif, bermula dari sipembuat, kemudian kesalahan tersebut diperbaharui oleh di peng-unggah, selanjut diterus kan oleh pengacara yang mati2an membela dengan berbagai cara termasuk komentar2 yang menyakitkan hati rakyat Indonesia ( dikiranya semua org di Tanah tumpah darah pusaka ini bodoh dan gak mengerti permasalahan kali ya ). Kemudian kesalahan tersebut dipertegas lagi oleh pemeran utama yang berkelit kesana kemari, dan tatap tidak mengakui perbuatan asusila tersebut.

    Selain itu saya juga muak dengan dalih, sipembuat tidaklah bersalah, karena ini buat konsumsi pribadi, harap jangan mencari pembenaran dengan argument yang tidak memiliki logika sempurna dong malu ama anak2 SMU yang sudah berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang Olimpiade Matematika–Fisika International dong… *lho… πŸ™‚

    Selain itu yang membuat kesal adalah, kualitas pidio yang masih jauh dari standar Hollywood, hahaha, terlihat sekali bahwa mereka masih amatiran, karena ;

    1. Kualitas gambar buruk
    2. Kualitas sound juga buruk
    3. Tidak ada sub title
    4. Tidak ada kredit title
    5. Tidak ada opening
    6. Durasi pelem terlalu singkat
    7. Angle nya monoton

    Hihihihihi …….

    Selesai, terima kasih
    Hormat saya

    Yang warnanya oren, tapi bukan thejak

  4. arkasala says:

    saya setuju sekali dengan statement ini mas : Seharusnya orang-orang yang β€˜dinobatkan’ sebagai publik figur mampu menjaga diri.
    Repotnya orang yang tercela juga masih dipake-pake juga…
    Sederhana tapi rumit.
    Trims Mas …

    • Aldy says:

      Kang Yayat,
      Mungkinkah itu cerminan kondisi yang sebenarnya sedang berlaku?

      • arkasala says:

        Pengaruh media dalam kondisi kekinian kali mas kalo menurut saya mah serta contoh dari sebagian para petinggi, artis dan publik fugur yang kadang menjengkelkan baik kebijakan maupun kelakukannya yang bisa jadi sedikit banyak mempengaruhi pola hidup masyarakat.
        Saking menjadi bangsa pemaaf, yang dicaci maki karena moral atau perbuatan yang kurang baik masih menghiasi dunia hiburan yang konon untuk menghibur masyarakat. Seakan gak ada pilihan lain πŸ™

        • Aldy says:

          Pengaruh media tidak selamanya buruk. Selama kita tidak sesat, apapun jika tidak dikontrol suatu saat memiliki kecenderungan untuk belok (kearah yang tidak benar).

          Pemaaf yang sudah salah kaprah, Kang.

  5. IndahKasihku says:

    Tuan Aldy,
    Dunia tanpa sempadan memungkinkan apa yang dimahu terus dapat walau hanya dipetik jari. Tanpa kawalam ketat pihak pemerintah keadaan ini makin berleluasa sehingga mengakibatkan keruntuhan akhlak yang tak terbendung. terkadang untuk meraih untuk bagi ekonomi negara, rakyatnya terpaksa menanggung derita dalam membangun insan diri.

    Mudahan filem2 sedemikian mendapat tapisan sewajarnya. Bagi Indah, bukan sahaja filem forno yang harus diambil perhatian malah filem2 yang mengguggatkan aqidah dengan adengan yang tidak masuk akal.

    Salam dari Indahkasihku.

    • Aldy says:

      Indah,
      Memang sudah seharusnya pemerintah melakukan tapisan terhadap film-film yang dapat merusak ahlak. Apakah efektif? tapisan hendaknya bermula dari lingkungan yang lebih kecil, Keluarga.

  6. yang halal lebih mak-nyus mas ya

  7. guskar says:

    drama menangis di depan media masih saya saksikan sore tadi… katanya sih menyesal.. makanya mohon jangan diproses lebih lanjut
    **seandainya pilemnya nggak beredar apa ada rasa penyesalan ya?

    • Aldy says:

      Penyesalan tidak menghilangkan unsur-unsur hukum kan Gus?, lagian kalau tidak beredar, sepertinya tidak pernah ada penyesalan πŸ™

  8. iskandaria says:

    Saya membuka halaman ini via opera 10.60. Tabbing-nya beda. Harus pakai shortcut khusus. Jadi lebih melelahkan lagi untuk melewati deretan pranala di dalam posting πŸ˜†

  9. Epenkah says:

    Hhmm.. cuma bisa ikut prihatin aja, komentar masalah ginian ntar ada yg nyalahin juga.. dibilang sok suci lah, jangan ngurus urusan orang lah.. lha, maunya didiemin apa? No comment deh.. (modesenyap:on)

  1. 21/11/2010

    […] kebrutalan sekelompok orang yang mengaku dirinya menegakan kebenaran, menjauhkan masyarakat dari kemaksiatan dan pembusukan. Wajar jika sianak meratapi warung yang mereka miliki, karena hanya warung itulah sumber […]