Peranan Guru dan Orang Tua dalam pendidikan anak usia sekolah

Guru digugu dan ditiru. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Orang tua adalah wakil Tuhan dimuka bumi ini. Sederet kata-kata mutiara itu masih berlaku sampai dengan saat ini. Tetapi benarkah aplikasinya dilapangan seindah kata-kata mutiara tersebut?

lady-teacher-funny-cartoonDalam sebuah perbincangan santai, saya pernah mengeluh dengan seorang teman yang kebetulan sehari-harinya berprofesi sebagai guru sekolah dasar. Seorang ibu guru yang terlalu baik, sangat taat menjalankan ajaran agama, seorang istri yang luar biasa, serta seorang ibu yang ngangoni.
Diperbincangan ini, saya mengeluh bahwa guru-guru yang ada saat ini tidak seperti kami waktu sekolah dulu, guru sekarang cenderung cuek, mengajar tapi tidak mendidik, serta hubungan antara guru dan murid tidak lagi seperti hubungan antara bapak dan anak [1]. Keluhan saya ini lebih banyak ditanggapi dengan senyuman dan sesekali helaan nafas panjang. Dari kondisi ini, aku menangkap ada yang tidak berjalan dengan semestinya, mungkin terlalu banyak ganjalan untuk menjadi seorang pendidik yang baik.

Pada kesempatan lain, aku berbincang dengan guru muda lainnya, masih lajang dan berpenampilan necis dengan gel rambut kelimis. Dia orang yang suka bicara apa adanya, blak-blakan.

“Om, menjadi guru yang baik itu tidak gampang. Bantuan orang tua yang kita harapkan membantu mendidik anaknya dirumah lebih banyak hanya harapan, pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada kita, tetapi saat giliran kita mau bersikap seperti orang tua sebenarnya [2], si anak tidak mau bahkan orang tuanya ikut-ikutan menyalahkan kita. Si anak menjadi pangeran kecil yang tidak boleh disentuh, bahkan dengan suara nyaring pun tidak boleh. Akibatnya, saya hanya mengajar dan mengajar, perkara siswanya paham atau tidak, bukan urusan.”

Justru sekarang giliran aku yang senyum-senyum mendengar penjelasannya. Jika sudah begini kondisinya, permasalahan memasuki tingkat kerumitan yang akut. Idealnya, harus ada komunikasi antara orang tua siswa dan guru. Sehingga perkembangan sianak terpantau, tidak hanya disekolah tetapi juga dirumah. Guru bisa tahu apa saja kegiatan si anak dirumah sementara orang tua siswa mendapatkan keterangan yang rinci proses belajar mengajar disekolah.

Orang tua siswa tidak selayaknya hanya menyerahkan pendidikan hanya kepada guru disekolah, pendidikan dalam keluarga seharusnya menjadi tiang utama pendidikan anak, sehingga ketika disekolah si anak masih membawa kultur yang baik dirumah. Jika pendidikan dirumah tidak cukup baik, mungkin saja membuat sianak berfikir pragmatis, akibatnya alih-alih dia menjadi anak yang patuh dengan pendidiknya yang terjadi justru sebaliknya. Rasa hormat kepada guru tidak ada, rasa sungkannya entah terbang kemana. Apalagi jika sekolah swasta, sianak bisa berfikiran dia sekolah dengan membayar sejumlah uang, sehingga menganggap sekolah bisa dibeli dengan uang. Jika ini yang terjadi, berarti tanda-tanda ‘kiamat’ sudah dekat.

Image Source : jokesprank.com

1 yang dimaksud hubungan bapak dengan anak disini adalah adanya interaksi positip antara guru dan siswa, tetapi pada kenyataannya itu tidak terjadi.
2 Dalam pembicaraan lanjutan si guru punya keinginan bertindak seperti orang tua layaknya, jika sianak berbuat sesuatu yang tidak baik maka dia akan menindak sianak dengan memberikan hukuman yang sesuai. Tetapi karena pernah terjadi pertentangan dengan orang tua siswa, akhirnya dia memilih cuek.

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

35 Tanggapan

  1. TuSuda says:

    Masih teringat bagaimana sistem pendidikan sewaktu masa sekolah dulu, dengan segala fasilitas yang serba terbatas, bisa mengajak dan menggugah para siswa agar lebih kreatif serta taat menghargai tuntunan guru.

    • Aldy says:

      Ya Bli, generasi kita menjalani sekolah dengan fasilitas yang sangat minim, apalagi yang sekolah dipelosok seperti saya, tapi kalau sudah berhadapan dengan guru, sama dengan berhadapan dengan orang tua.

  2. TuSuda says:

    SALAM hormat dan salut, buat para guru yang tetap berjuang penuh pengabdian, ditengah tantangan dunia pendidikan saat ini. 8)

    • Aldy says:

      Sekarang pengabdian para guru sudah disupport dengan salari yang memadai dari pemerintah bli, gak sesudah guru jaman dulu.

  3. nique says:

    ouh … ?
    kiamat so dekat?
    torang blom juga punya anak
    jangan kiamat dulu no om πŸ™

    • Aldy says:

      Perkiraan Ni, perhitungan kalender suku maya kan melahirkan film 2012 yang katanya kiamat itu πŸ˜€
      Heeiii, mo gak ngaku ya…ntar kiamatnya tak tunda saja.

  4. Ari Tunsa says:

    kalo anaknya gak mau diserahkan ke guru ya nggak usah sekolah saja.. belajar di rumah. ya om?

    • Aldy says:

      Ari, bisa juga seperti itu, home school, tapi bagi kebanyakan orang kita, kalau gak ada izasah, katanya gak sekolah.

  5. Cahya says:

    Pengajaran itu sangat penting bagi anak-anak, namun pendidikan itu jauh lebih bernilai. Namun mendidik tidak semudah mengajar, banyak orang tua dan guru mungkin tidak memahami benar bagaimana mendidik. Namun saya sendiri tidak berani berkata bahwa saya lebih paham tentang bagaimana mendidik.

    • Aldy says:

      Esensi mendidik ini yang menurut saya sekarang sudah sangat jauh menurun mas. Guru hanya mengajar, dan ada orang tua yang merasa cukup mendidik anak jika sudah menyekolahkan anaknya.

      • Cahya says:

        Saya kadang ndak paham, apa sih yang sebenarnya ingin diwujudkan lembaga pendidikan saat ini – jika yah… begitu deh.

  6. dhedhi says:

    wah, betul.. semua berperan terhadap perkembangan anak πŸ™‚

  7. Samaranji says:

    Pepatah Yunani mengatakan *ciieee*
    “Masa terbaik untuk membentuk karakter seorang anak adalah, seribu tahun sebelum kelahirannya” *lebay* πŸ˜‰

    Pepatah Arab mengatakan *bo’ong, Om*
    “Nasihat terbaik adalah suri tauladan” *tumben waras nih* πŸ˜€

    Paribasan Jowo, nuduhno
    “Piye arep anake dadi sholeh/ sholehah, wong tuane ae pecicilan orak nggenah…” πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

    Selamat Pagi Om Aldiii
    Salam Superrr… πŸ˜‰

    • Aldy says:

      β€œPiye arep anake dadi sholeh/ sholehah, wong tuane ae pecicilan orak nggenah…”

      Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga πŸ˜€

  8. applausr says:

    setuju nih dengan artikel ini…. tapi saya tidak bisa komen apa apa… takut salah kalau comment.

  9. narno says:

    fenomena sekarang memang berbeda, arus informasi yang bertubi-tubi setiap hari, apalagi dengan isu HAM banyak meminggirkan peran guru dalam memperkuat karakter anak, salah sedikit bisa diblow up dengan isu HAM, akhirnya guru tak bisa berkutik, beda dengan jaman saya masih anak-anak, apapun yang dilakukan guru terhadap anak orang tua tidak akan protes, bahkan cenderung menganggap itulah salah satu bentuk membentuk pribadi anak

    • Aldy says:

      Saya juga sedih dengan kondisi ini mas, orang tua kadang terlalu mudah menyalahkan para pendidik disekolah. Tapi disisi lain mereka menitipkan anaknya untuk sekolah.
      Sayapun sangat maklum jika ada guru yang hanya sekedar mengajar tapi kandungan pendidikannya rendah. Masa saya sekolah mungkin sama dengan mas Narno, guru dimata saya sama dengan orang tua dirumah.

  10. narno says:

    komenku kena jerat?

  11. dee says:

    Saleum,
    Seharusnya demikian mas, orangtua pun harus aktif mengelola anaknya dirumah. Kalau cuma disekolah aja si anak yg dibekali, sudah pasti kiamat akan tiba dengan cepat. Gak dapat ngopi lagi aku….

  12. Una says:

    Sip sip. Selain guru, peran orang tua sangat penting ya.
    Mengajar tapi tidak mendidik, hihi iya juga ya πŸ˜€

  13. ORTU adalah guru utama, tauladan bagi anaknya. Nah kalo ORTU dah gak bisa jadi tauladan baik, aduh gimana ntar para anak jadinya πŸ™‚

    • Aldy says:

      Orang pertama yang mengajar anak ya orang tua, kalau orang tua mengajarkan yang tidak benar bagaimana mau baik disekolah.

  14. Cholifah says:

    memberi pencerahan tentang semakin ruyamnya pendidikan di Indonesia, tp masih ada yg memperjuangkan untuk menuju kearah lebih progresif. Mari kita membangun Indonesia dari rumah. πŸ™‚
    salam kenal nggih.

  15. Obin says:

    Assalamualaikum 0m, saya ini remaja, pengen ng0men juga yang beginian, menurut saya pribadi, yang saya liat di desa saya, ( orang tua murid ; di rumah ; sibuk kerja ; n0 time for didik anak ; akhirnya nitipin sekolah ; kadang di rumah dah buka televisi ; buat hilangin penat kerja ; anak disuruh belajar ; tapi gak di ajarin ; kadang cuma n0nton sinetron yang tayang di jam wajib belajar buat anak skolahan ) solusi dari posting 0m di atas apa yak ?