Sandung, Tempat penyimpanan kerangka Jenazah.

Dalam kepercayaan masyarakat Suku Dayak bahwa orang yang mati/meninggal adalah melakukan perjalanan dan hidup didunia lain ( dunia roh ) atau disebut juga dengan Sebayan, puncaknya disempurnakan dengan mengangkat kembali kerangka jenazah dan disimpan pada sebuah bangunan yang dinamakan Sandung.

Upacara pengangkatan kerangkan jenazah ini disebut dengan “Pesta Tiwah”. Ini adalah pesta besar, menghabiskan dana dalam jumlah yang besar serta dilaksanakan selama 7 hari/7 malam. Hanya orang-orang tertentu yang sanggup melaksanakannya. Dan istiemewanya kerangka jenazah yang diangkat bukan hanya satu orang, tetapi bisa terdiri dari beberapa orang ( umumnya masih memiliki pertalian darah yang dekat ).
Tetapi semenjak masuknya Agama Katolik dan Protestan, perlahan namun pasti tradisi ini mulai disederhanakan. Sehingga tidak terlalu memberatkan keluarga yang ditinggalkan. Upacara pemakanan berlangsung dengan tatacara agama yang dianutnya.

Berikut ini, foto-foto keloksi saya ketika mengunjungi salah satu desa bernama Penyuguk, Kecamatan Ella Hilir, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat. Perjalan dilakukan melalui sebuah jalan IUPHHK, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 (dua) jam. Penyuguk adalah desa yang terletak paling ujung sungai Ella ( anak sungai Melawi ). Desa ini masih satu kecamatan dengan desa sebelumnya, tetapi sudah berlainan sungai.

toras

Gambar 1 : Sisa sisa toras.

Gambar 2 : Toras dengan patung manusia.

Toras disebut juga dengan pantar, fungsi utamanya tempat tiang pengikat ternak yang dijadikan kurban. Katanya, didalam lobang pantar inilah kepala manusia hasil ngayau ( berburu kepala manusia ) dibenamkan. Tetapi dari informasi tetua adat setempat hal ini tidak terbukti.

sandung

Gambar 3: Sandung tempat menyimpan kerangka jenazah.

Sandung diatas dibuat pada tahun 1963 dan setelah itu tidak ada lagi pesta tiwah yang melibatkan banyak ternak dan harta benda.

Jangan dipelototi sandungnya, nta malam bisa mimpi….

( nggak ding, guyon aja 😀 )

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari dua orang putu. Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

90 Tanggapan

  1. arika afriani saragih says:

    empat bulan lalu saya mengikuti ritual pengangkatan tulang nenek di desa marapit kecamatan pujon kalteng.diikuti oleh 32 keluarga yg tiwah,tiwah dilakukan selama 30 hari,dalam ritual ini banyak hal aneh yang saya rasakan,salah satunya adalah “ngelingu”.

  1. 10/11/2010

    […] didusun ini sudah tidak ditemukan lagi toras/sandung seperti di Desa Penyuguk. Menurut keterangan yang diperoleh dari Masyarakat sekitar, pemakaman sudah dilaksanakan dengan […]

  2. 18/02/2012

    […] Adat istiadat setempat, adat istiadat tidak terlalu sulit, hampir pada setiap daerah memiliki adat istiadat yang mirip dengan daerah lainnya. Namun demikian ada hal-hal tertentu yang harus menjadi perhatian, contohnya minum baram. Pada suatu daerah, jika disuguhi barem, gelas yang digunakan untuk minum baram jangan diletakkan kembali dalam posisi normal, karena dengan begitu berarti kita mengisyaratkan agar baram dituangkan kembali (tambahan). Gelas harus ditelungkup sebagai tanda kita tidak kuat minum baram. […]