Wakil Rakyat?

wakil rakyatPertanyaan sederhana, pada anggota Dewan Perwakilan Rakyat dipilih oleh rakyat, digaji dengan uang rakyat, statusnya sebagai wakil rakyat, mengapa mereka bergaya melebihi orang-orang yang mempercayakan mandatnya kepada mereka?

Dengan menyandang status sebagai wakil rakyat, kita menyaksikan sendiri tingkah polah para wakil kita sungguh tidak terpuji dan sialnya, kita tidak memiliki kemampuan untuk memberhentikan mereka secara tidak hormat. Idealnya, jika dia menyandang predikat sebagai wakil, harusnya tunduk kepada ketua (rakyat yang memilih).

Tetapi pada kenyataannya, justru mereka menjadikan dirinya pemimpin dan lupa kepada orang-orang yang telah memberikan mandat. Bahkan ada anggora dewan bergelar doktor tapi bicaranya justru menyakiti perasaan orang yang mendengarnya.

Dengan fasilitas yang boleh dikatakan wah, para wakil inipun santer terdengar melakukan perbuatan yang tidak terpuji, kasus perselingkuhan bahkan sampai dibuat rekaman videonya, kasus obat-obatan terlarang dan yang paling asyik kasus korupsi. Kasus yang terkahir ini, sudah menjadi berita sertiap hari dimedia mas, bahkan sudah jenuh mendengarkan. Tapi justru para oknum tersebut keranjingan melakukan korupsi. Dari apel malang sampai apel washington dilalap kabeh. Jan rakus tenan.

Apakah semua anggota dewan itu perilakunya buruk? mungkin tidak. Ada diantaranya yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk kepentingan orang banyak. Dari sekian banyak anggota dewan, pastilah terselip salah satu yang baik. Tapi apalah artinya satu orang baik dikelilingi orang-orang yang kurang baik? jangankan cuma satu orang yang baik, susu sebelanga saja rusak gara-gara nila setitik.

Wahai bapak-bapak yang saat ini menyandang predikat sebagai anggota dewan yang terhormat(?), tolong sedikit tunjukan bahwa anda orang-orang terpilih, berakal budi dan berprilaku baik. Ingat, anda duduk dikursi mahal sekarang ini, mungkin hasil keringat asinnya si Inem, Si Paijo, si Santoy, si Apang Aloi, Si Lebay Malang…..

Seorang teman pernah bertanya, apakah aku pernah bertemu dengan wakil rakyat. Dengan tegas dan jelas aku katakan bahwa sudah sejak lama aku tidak pernah bertemu dengan wakil rakyat, tapi kalau anggota dewan, cukup sering. Nah!

Gambar dari :sectiocadaveris.wordpress.com

Aldy M. Aripin

Seorang suami dari seorang istri, Ayah dari dua orang putri dan eyang dari tiga orang putu (update). Saat ini bekerja sebagai profesional pada sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak dibidang pengusahaan hutan.

Mungkin Anda Tertarik

44 Tanggapan

  1. Sukadi says:

    Wakil rakyat? saya kira tidak semua menjadi wakil rakyat, malahan banyak yang cenderung menjadi wakil pribadi dan golongannya. 🙁

  2. anazkia says:

    Hmmmm, saya apatis dengan wakil2 rakyat, Om. Gimana, yah? Susah mengurainya… Makanya kadang suka aneh kalau ada orang yang sampai berlari2 pengen foto sama wakil rakyat kok saya merasa aneh… hadeuhhhh

    • nique says:

      hihihi jadi ngebayangin orang yang berlari2 pengen foto sama wakil rakyat
      tapi memang begitulah keadaannya sih
      yang aneh buat saya, blogger dimana2 ya menulis seperti ompakdemas ini, tetapi yang ngejer2 anggota dewan itu ya tetep banyak, ato mereka itu tak ada yang blogger ya? hihihihi

      • Aldy says:

        Aku pernah melihat sendiri, yang ngejar-ngejar minta foto itu ya para pendukungnya 😉

        • nique says:

          Ooo jadi biar keliatan keren, disuruh2lah itu pendukungnya minta foto? ato emang pendukungnya yang ganjeng? 😀

          • Aldy says:

            Kadang ada orang-orang tertentu yang mengajak masyarakat berfoto dengan si anggota, kemungkinan orang suruhan tapi bisa juga pemuja fanatik. Kalau anggota dewan wedok, kadang aku rada ganjeng juga 😆

    • Aldy says:

      Yang foto-foto itu pastilah konstituennya 😀

  3. TuSuda says:

    Apakah sistemnya harus dbenahi lagi, agar wewenang mandatnya bisa bermanfaat langsung bagi rakyat. 🙁

  4. Citro Mduro says:

    Rakyat tidak memiliki keberanian untuk menghabiskan uang rakyat secara berlebihan, rakyat berpikir untuk masa depan
    untuk itu diperlukan wakil melakukannya, menghabiskan uangnnya
    rakyat kan sudah kaya, wakilnya masih melarat dan kaget dengan uang rakyat

    entahlah om, saya tidak paham dengan manusia-manusia pintar tersebut

    • Aldy says:

      Karena rakyat mencarinya dengan keringat sendiri Cak. Orang yang mendapat uang dengan mudah akan dengan mudah pula menghabiskannya, karena tidak ada berkah yang dibawa dari uang itu.

  5. Darin says:

    Rakyat sekarang tak merasa punya wakil. Makanya kalau ada apa2 main labrak saja sendiri. Mesuji, Bima, Tanjung Priok, Ambon, dan masih banyak lagi tempat yang jadi bukti ttg kebenaran hal tersebut. Grrrr! >:-(

    • Aldy says:

      Salah satu permasalahnnya ada disana mas, hilangnya kepercayaan. Tapi anehnya, tidak banyak para anggota dewan yang peduli dengan hal ini kecuali menjelang pemilihan. 🙁

  6. jarwadi says:

    hehehe
    coba gunakan analogi begini, gaji wakil bupati lebih sedikit dari gaji bupati
    seharusnya rakyat lebih sejahtera dari wakil rakyat, ya kan ya kan!

    kita ambil kembali saja mandat untuk mereka!

    • Aldy says:

      Hahaha…seharusnya seperti itu mas, gaji wakil harusnya lebih kecil dari gaji sang ketua. Mandatnya baru bisa diambil setelah lima tahun.

  7. dmilano says:

    Saleum,
    Ada beberapa anggota dewan yang sering kujumpai, diantara mereka cuma ada satu wakil rakyat yang nampak. Bukan karena dia kawan sekolahku sebangku dulu akan tetapi karena sikap dan pengabdiannya pada kampung dan juga warga kurang mampu yang telah dibantunya. Mudah2an saja selalu demikian kedepan kalau dia terpilih lagi.

    • Aldy says:

      Yap, memang tidak semuanya Dee, cuma ya itu tadi, sesuatu yang baik sangat mudah terlindas yang tidak baik. Akibatnya, mereka yang sungguh-sungguh berjuang untuk rakyat menjadi orang yang terpinggirkan.

  8. iskandaria says:

    Sudah bukan rahasia umum lagi kalau jabatan sebagai wakil rakyat kebanyakan hanya bermotivasikan untuk kepentingan perut. Makanya banyak yang rela investasi atau keluar modal gede agar bisa gol menjadi anggota. Umumnya baru mendekati rakyat kalau mau mencalonkan diri 😉

  9. applausr says:

    wah untung tidak pernah milih…. jadi tidak merasa mereka adalah wakil saya… ahahhahaaha

  10. alaika says:

    saya malah pernah bertengkar dengan seorang wakil rakyat yang kami undang ke forum pelatihan yang kami adakan, pelatihannya sih untuk pembekalan pengetahuan tentang pentingnya pengelolaan kebersihan yang sistematis, efektif dan efisien bagi para pegawai tinggi dinas kebersihan, wakil rakyat kami libatkan agar mereka paham saat pengajuan anggaran oleh dinas ini, supaya mereka jangan asal potong saja anggaran (yang sebenarnya sgt dibutuhkan oleh dinas) namun dianggap tidak perlu menurut mata dewan.

    Nah, di tengah forum, dia mencak-mencak, katanya modul yang diberikan trainer tidak sesuai, tidak membahas ttg UU no 11 tentang MOU perdamaian Aceh. Lho????? udah jelas topicnya adalah tentang persiapan anggaran, akuntansi dan management keuangan serta pemahaman akan pentingnya anggaran yang memadai bagi pengelolaan kebersihan. Tertera jelas di dalam undangan yang kami sebarkan. Eh dia ngotot, pake acara menuduh kami sedang memperdaya Aceh segala… Masyaallah, BODOH sekali anggota Dewan ini. Kok bisa terpilih gitu lho??

    Ini baru satu contoh… di lapangan dan keseharian, kita menemukan banyak contoh bobrok lainnya ttg para WR yang menari-nari sebagai anggota dewan yang terhormat. Ampun dweh….

    • Aldy says:

      Kan anggota dewan dipilih bukan berdasarkan kualitas, tapi berdasarkan kuantitas. Hasilnya seperti yang mbak alami. Dan biasanya (yang saya temukan) mereka sok pinter, sok hebat, sok segalanya bahkan sampai shockbreaker mereka akui. Ditempatku, dari sekian banyak jumlah anggota dewan, mungkin hanya 10% saja yang bagus, itupun belum tentu sampai.

  11. Samaranji says:

    Yeah…
    embuhlah om… 😀
    eh… lah bedanya wakil rakyat ama anggota dewan apaan dong? 😉

    • Aldy says:

      IMO, anggota dewan sama dengan kaum elite yang biasanya berjibaku untuk kepentingan sebagian orang. Wakil rakyat (anggota dewan yang sesungguhnya) berjuang untuk konstituenya.

  12. Kika says:

    Iya, mereka memang bukan wakil rakyat tapi anggota *ewan yang terhormat.

    Salam.

  13. Hanif Mahaldi says:

    sayangnya pak, mereka wakil rakyat yang prilakunya baik, gak pernah diekspose di TV, jadi terkesan wakil rakyat itu semuanya buruk.

    • Aldy says:

      Benar mas, media massa kita pun kadang berlaku edan, hal-hal yang buruk lebih ditonjolkan dari pada hal-hal yang baik.

  14. Ipras says:

    Kata teman saya di Facebook, wakil rakyat zaman sekarang sepertinya sudah salah mengartikan siapa itu wakil rakyat? Seperti misalnya:
    – Rakyat bisa mendapat rumah mewah, sudah ada wakilnya
    – Rakyat bisa makan enak, sudah ada wakilnya
    – Gaji besar untuk rakyat pun sudah ada wakilnya

    begimane dong tuh??? hehe… 😆

  15. Cahya says:

    He he…, milih saja ndak, sudah tahu soalnya bakal jadi begitu :|.